Hikmah Islam Diturunkan di Jazirah ‘Arab

Ringkasan kajian Sirah Nabawiyah pertemuan ke-2: Hikmah Islam diturunkan di Jazirah ‘Arab dan Asal usul Bangsa ‘Arab.

oleh: Ust. Wira M. Bachrun

Pengantar, QS Yusuf: 2 –> “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.”

jazirah 'arab

Al Quran diturunkan dalam bahasa ‘Arab dengan Nabi yang dilahirkan sebagai orang ‘Arab. Sehingga, mau tidak mau, suka tidak suka, muslimin di Indonesia memiliki hubungan dengan bangsa ‘Arab. Konsekuensinya, sulit rasanya memahami Islam dengan sempurna apabila tidak mengenal bahasa ‘Arab.

‘Arab ( dibaca ‘arob), secara kata berarti padang pasir, tanah gundul, gersang tidak ada tanamannya.

Jazirah ‘Arab di masa lalu, tidak termasuk wilayah Irak (dikuasai bangsa Persia dengan kepercayaan Majusi/ Zoroaster nya), Habbasyah (Afrika), dan Mesir (jajahan Romawi dengan pengaruh kuat agama Nasrani). Batas barat laut adalah Laut Merah dan gunung Sinai, batas utara adalah Syam dan sebagian kecil Iraq. Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Arab dan Samudera HIndia (sekarang berbatasan dengan Yaman dan Oman).

Kenapa Nabi penutup diutus di tanah ‘Arab?

  1. Tanah merdeka

Seperti sudah disampaikan di awal, bahwasanya negeri-negeri di sekitar jazirah ‘Arab dikuasai oleh bangsa superpower dengan peradaban besar, yaitu Persia dan Romawi. Sementara tanah ‘Arab, tiidak dijajah atau dikuasai oleh bangsa manapun. Dan memang, tanah ‘Arab ini tidak dipimpin oleh satu penguasa tunggal, yang ada adalah kabilah-kabilah dengan kepala sukunya masing-masing. Nantinya, Islam, dengan diutusnya Muhammad bin ‘Abdullah sebagai pembawa risalah, akan datang untuk membangun suatu bangsa bahkan suatu peradaban yang besar. Sebuah peradaban dari gurun pasir tandus, akan muncul, bertumbuh, berkembang, dan akhirnya  mampu meruntuhkan hegemoni dua kerajaan besar Romawi dan Persia.

  1. Agama dan kepercayaan beragam

Era sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW, kepercayaan dan tradisi bangsa Arab di Hijaz (Mekah, Yatsrib, Thaif, dan sekitarnya) banyak diengaruhi oleh 3 agama besar saat itu; Yahudi (pembawa agamanya dinisbahkan kepada Nabi Musa), Kristen (pembawa agamanya dinisbahkan kepada Nabi Isa Al-Masih /Yesus Kristus), Zoroaster / Majusi (pembawa agamanya dinisbahkan kepada Zaratustra). Namun demikian, agama pagan menyembah berhala masih menjadi mayoritas cara keagamaan masyarakat jazirah ‘arab kala itu.

Para penyembah berhala itu biasanya membawa patung-patung kecil yang mereka anggap tuhan khusus ke mana pun mereka pergi. Hal itu dilakukan karena mereka berkeyakinan bahwa dengan cara itulah mereka dapat lebih dekat dengan tuhan. Sehingga dalam berbagai hal tuhannya dapat segera menolong sesuai kebutuhan mereka. Namun, sebagian besar dari mereka tetap menganggap ka’bah adalah tempat yang paling suci dan menjadi sentral ibadah seluruh umat manusia.

  1. Kondisi sosial ashabiyah (kesukuan)

Masyarakat jazirah ‘Arab waktu itu terdiri atas banyak suku atau kabilah. Masing-masing kabilah membanggakan kelompokny amasing-masing. Rasa bangga inilah yang kerap menimbulkan perseteruan dan persaingan. Tak ayal, peperangan antarkabilah menghiasi bulan demi bulan dari penduduk tanah padang gersang ini. Islam nanti akan muncul dan menghapus sedikit-demi sedikit persaingan antarkabilah ini menjadi suatu umat yang bersatu (ukhuwah Islamiyah) tanpa memandang asal, ras, suku, bahkan status sosial. Semua sama di hadapan Illahi, hanya kadar ketakwaan yang membedakan mereka.

  1. Jauh dari peradaban besar

Secara sejarah, memang dulu bangsa ‘Arab kuno pernah memiliki peradaban besar. Namun ketika Nabi Muhammad dilahirkan, bangsa ‘Arab tidak memiliki peradaban besar yang berarti dibandingkan tetangganya seperti Romawi dan Persia.  Iniah kemudian yang membuat para ahli sejarah mengelompokkan masyarakat ‘Arab menjadi tiga era; yaitu ‘Arab Ba’idah, arab ‘Aribah, dan ‘Arab Musta’idah. Arab Ba’idah, bangsa Arab kuno yang pernah memiliki peradaban besar tetapi sudah punah populasinya, di antaranya yaitu kaum ‘Aad (umat nabi Hud, di pantai selatan) dan kaum Tsamud (umat nabi Soleh di dekat Jordania). ‘Arab ‘Aribah, era pertengahan, sedikit sekali meninggalkan jejak peradaban tinggi. Dan ‘Arab Musta’idah, campuran dengan bangsa lain, menjadi bangsa ‘Arab yang sekarang.

  1. Geografis terletak di tengah dunia

Benarkah? Bukankah seharusnya tengah dunia berada setidaknya di garis khatulistiwa? Benar, jazirah ‘Arab merupakan tengah dunia, untuk peta sat itu. Karena peta yang dibuat kala itu tidak selengkap sekarang. Waktu itu benua Amerika belum ditemukan dan daerah yang berhasil dijelajahi oleh para pelaut masih terbatas. Sehingga tepatlah jika jazirah ini berada tepat di pertemuan dua garis lintang. Hal ini membuat semenanjung ‘arab menjadi jalur persilangan dunia.

  1. Hanya mengenal satu bahasa

Meskipun terdiri dari banyak kabilah, tetapi bangsa ‘Arab memiliki keunikan yaitu berbahasa dengan bahasa yang sama; bahasa ‘Arab. Satu bahasa yang dapat digunakan dan dipahami di mana pun di wilayah ‘Arab. Oleh karenanya, ketika Al Quran diturunkan dengan bahasa ‘Arab, lebih mudah untuk bisa dipahami oleh setiap orang ‘Arab. Bayangkan jika Al Quran turun di Nusantara ketika itu, dengan beraneka ragam bahasa lokal. Misal Islam turun di sunda, dengan bahasa sunda, tentunya akan sulit mensyiarkan dakwah pada penduduk Madura atau Nusa Tenggara yang berbahasa beda.

  1. Banyaknya masyarakat yang datang ke Makkah

Masih ingat tentang ka’bah? Bangunan batu yang didirikan kembali oleh Bapak moyang tiga peradaban; Yahudi, Nasrani, dan ‘Arab itu sendiri, yaitu Nabi Ibrahim. Anak turun Bapak Ibrahim ini telah tersebar di berbagai tempat di penjuru jazirah, dengan bekal keyakinan bahwa ziarah ke Ka’bah adalah sebuah tradisi agung yang perlu dilestarikan. Hikmahnya, ketika ajaran Islam mulai menyebar, dakwah Islam juga turut tersebar pada para pengunjung Ka’bah, yang kemudian akan kembali ke daerah masing-masing untuk mengabarkannya pada kaum kerabatnya di sana.

  1. Secara fisik, postur tubuh orang Arab proporsional tengah-tengah

Tinggi postur tubuh bangsa Asia, rata-rata 160-170 cm. Orang Afrika dan Eropa  memiliki postur tinggi antara 190-200 cm. Sementara orang-orang ‘Arab ada di tengah-tengah dengan tinggi 170-180 cm. Hikmahnya, jika orang ‘Arab ingin berdakwah pada kaum Asia yang posturnya lebih pendek tidak terlalu merepotkan orang Asia tersebut. Sementara jika ingin berdakwah pada orang-orang Afrika atau Kaukasia, orang ‘Arab tidak terlalu mendongak ketika berbicara. Secara fisik, bangsa ‘Arab dipersiapkan untuk bisa berinteraksi dengan penduduk negeri lain dengan postur fisik lebih tinggi atau lebih pendek dari mereka. Orang-orang jazirah ‘Arab yang terbiasa beradaptasi pada lingkungan sulit, memang disipakan untuk menjelajah ke negeri-negeri lain untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup; berdagang. Coba jika Islam turun di bumi Nusantara yang gemah ripah loh jinawi, ijo royo-royo, nanti malah tidak berdakwah tetapi malah “nyawah” (bekerja di sawah) karena saking suburnya tanah dan sumber daya alam. Maa Syaa Allah.

Demikian ringkasan bab mengenai hikmah Islam diturunkan di Jazirah ‘Arab, semoga kita memeroleh ‘ilmu dan pelajaran dari kajian ini. Amiin.

#jazirah ‘Arab # Islam di jazirah ‘Arab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*