Peran Amtsal dalam Al Quran

Secara makna kata, Amtsal adalah bentuk jamak dari kata matsal dan kata mitsal yang berarti misal, perumpamaan, sesuatu yang menyerupai dan bandingan.

            Sedangkan arti katanya sendiri, amtsal berarti ungkapan pernyataan yang dihikayatkan dan sudah populer, dengan maksud menyerupakan keadaan yang terdapat dalam perkataan itu dengan keadaan sesuatu, atau lebih mudahnya disebut proses analogi atau permisalan. Contohnya ketika berbicara dengan anak TK tentang tinggi sebuah tiang listrik. Ketika SOBAT mengatakan pada adek TK itu bahwa tinggi tiang listrik 10 meter, Insya Allah adek tadi akan bingung atau terus menyerang dengan pertanyaan. Sepuluh meter itu tingginya seberapa? Meter itu apa? Beda jika kita bilang bahwa sepuluh meter itu sama tingginya dengan 100 apel yang ditumpuk jadi tinggi seperti tiang listrik itu lho, Dek. Tambah senyum dikit lebih baik.

            Yup, karena sebuah hakikat dan makna yang tinggi nilainya atau bahkan belum terjangkau oleh akal pikiran manusia di suatu zaman, akan lebih mudah dimengerti apabila dituangkan melalui ucapan yang baik dan lebih dekat pada pemahaman keseharian (kelaziman). Tentunya melalui proses permisalan tadi.

            Tamsil atau para pujangga menyebutnya sebagai ibarat, akan memudahkan penggambaran terhadap suatu hal, menyerupakan yang ghaib dengan sesuatu yang nyata (riil), yang abstrak dengan yang konkrit. Merlalui tamsil, betapa banyak makna akan berubah menjadi lebih indah, menarik dan mempesona.Wow menarik! Asy syahid Sayyid Qutb, semoga Allah memuliakannya, menyatakan bahwa amtsal dalam al Quran merupakan sarana untuk menggambarkan kondisi bangsa–bangsa pada masa lampau dan menggambarkan ahlaknya yang sudah sirna.

Macam-macam Amtsal dalam Al Quran

            Dalam Al Quran, ada tiga jenis amtsal; yaitu amtsal musarrahah, amtsal kaminah dan amtsal mursalah.

  1. Amtsal Musarrahah, ialah amtsal yang di dalamnya dijelaskan dengan lafazh matsal atau sesuatu yang menunjukkan kalimat tasbih (nisbah; permisalan). Seperti firman Allah:

Allah telah menurunkan air hujan dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada pula buihnya seprti arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan, matsal, bagi yang benar dan batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya; sedangkan yang memberi manfaat kepada manusia maka ia tetap di bumi.Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan. (QS 13: 17)

2. Amtsal Kaminah, adalah amtsal yang di dalamnya tidak disebutkan dengan jelas lafadzh tamtsil (permisalan) tetapi ia  menunjukkan makna-makna yang indah, menarik, dalam kepadatan redaksinya dan mempunyai pengaruh tersendiri bila dipindahkan kepada yang serupa dengannya. Contohnya, firman Allah mengenai

salat,

“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan jangan pula merendahkannya, dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (QS 17: 110)

sapi betina,

Sapi betina tidak tua dan tidak muda, pertengahan antara itu….” (QS 2: 68)

infaq,

Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan pula terlalu mengulurkannya.” (QS 17: 29)

kejahatan,

Barangsiapa mengerjakan kejahatan, niscahya akan diberi pembalasan sesuai dengan kejahatan itu….” (QS 4:123)

3. Amtsal Mursalah, adalah kalimat-kalimat bebas yang tidak menggunakan lafadzh nisbah secara jelas, tetapi kalimat-kalimat in iberlaku sebagai matsal. Contohnya:

  • Dan rencana jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya (QS 35: 43)
  • Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu (QS 2: 216)
  • …Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah)yang disembah (QS 22:73)
  • Tidak sama yang buruk dan yang baik (QS 5: 100)
  • Betapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah (QS 2:249)
  • Tiap-tiap diri bertanggungjawab dengan apa yang telah diperbuatnya (QS 74:38)

Pentingnya Keberadaan Amtsal

            SOBAT, kenapa permisalan alias amtsal ini menjadi penting dalam al Quran? Ada beberapa uraian dari ulama Manna’ Al Qaththan dalam kitab beliau yang berjudul Mabahits fi Ulumil Quran:

  • Pertama, menonjolkan sesuatu yang ma’qul (yang hanya bisa diajangkau akal, abstrak ) dalam bentuk konkrit  yang dapat dirasakan oleh indera manusia, sehingga akal kita bisa menerimanya. Masih ingat kan cerita tentang adek TK tadi? Nah, Allah juga memberi kita contoh dalam surat Al Baqarah ayat 264 tentang permisalan orang yang suka riya’ (ssst…. bukan Riya anaknya pak RT lho) sehingga amalan yang dikerjakannya tak berguna sedikitpun.

“  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria’ kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang diatasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalyu menjadilah dia bersih tak bertanah…”  (QS Al Baqarah: 264)

  • Kedua, menyingkapkan hakikat-hakikat dan mengemukakan sesuatu yang tidak nampak seakan-akan sesuatu itu tampak. Misalnya dalam Al Baqarah ayat 275 Allah SWT berfirman:

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila…..”

  • Ketiga, mengumpulkan makna yang menarik lagi indah dalam ungkapan yang padat, seperti amtsal Kamimah dan amtsal Mursalah seperti contoh yang sudah tadi. OK, ditatap sendiri ya…..
  • Keempat, mendorong orang yang diberi matsal untuk berbuat sesuatu sesuai dengan isi matsal, jika ia merupakan sesuatu yang disenangi jiwa. Misalnya firman Allah mengenai orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah; Allah akan membalasnya dengan balasan yang berlipat-lipat:

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pasda tiap-tiap bulir, seratus biji. Allah melipatgandakan ganjaran bagi siapa yang Dia kehendaki.”

Weiiit, bentar-bentar. Wow menarik, untung besar kita nih! Coba aja bayangkan, misal kita infaq seribu rupiah…..mmmm… berarti 1000 x 7 = 7000. Setiap 7000 x 100 = 700.000. Luar biasa, kalau memakai logika orang dagang, modal seribu doang dapat untungnya Rp 699.000,-. Syaratnya Cuma harus ikhlas, itu saja. Itu hitungan menurut akal kita yang terbatas, kita nggak tahu apakah seratus kata Allah dalam ayat ini sama dengan seratus yang kita bayangkan.Bisa jadi lebih buuuanyak. Kalo gitu, yuk praktek….!

  • Kelima, untuk menjauhkan (tanfir), jika isi matsal berupa sesuatu yang dibenci oleh jiwa yang fithrah. Misalnya firman Allah tentang bergunjing. Firman Allah SWT pada QS Al Hujurat ayat 12:

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prsangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian dari kamu mengguning sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?……”

            Hiii, baru makan daging yang sudah matang tetapi agak bau saja udah jijik, eeee ini makan daging bangkai, manusia lagi. Bisa muntah-muntah tiga hari lima malam nih! Ngeri ya SOBAT, kejelekan orang yang suka menggunjing itu ?!

  • Keenam, untuk memuji orang yang diberi matsal. Seperti firman-Nya tentang para sahabat Rasulullah SAW yang mulia:

“Demikian perumpaman mereka dalam taurat dan perumpamaan mereka dalam Injil, yaitu seperti tanman  yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah ia dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin) “     (QS Al Fath: 29)

            Demikianlah para sahabat Rasulullah saw itu,semoga Allah memuliakan mereka, awalnya mereka semua hanya minoritas, bahkan ada sebagian lagi yang sebelumnya hanyalah budak belian. Dengan Islam dan bimbingan sunnah Rasulullah saw secara langsung, mereka berkembang menjadi pribadi mulia yang dikenang sepanjang Islam ditegakkan. Bahkan ada yang tanpa password dan seleksi lagi langsung dijamin surga. Ck ck ck subhanallah.

  • Ketujuh, menggambarkan dengan matsal tersebut sesuatu yang mempunyai sifat yang dipandang buruk oleh orang banyak. Misalnya tentang keadaan orang yang dikaruniai Kitabullah tetapi ia tersesat, sehingga tidak mau mengamalkannya. Hal ini disampaikan Al Quran dalam surat Al A’raf 175-176. Pssst, bocorin sedikit, ayat 176 ini berbicara tentang anjing. So, nanti aja kita bahas lebih jauh di bab khusus.
  • Kedelapan, amtsal lebih berpengaruh pada jiwa, lebih efektif dalam memberikan nasehat, lebih kuat dalam memberikan peringatan dan lebih memuaskan hati.

“Sesungguhnya telah kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka mendapat pelajaran” (QS Az Zumar  : 27)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*